Minggu, 20 Oktober 2013

DESA JENGGIK UTARA

PERMASALAHAN JENGGIK UTARA
KID Jenggik Utara:
Memenuhi Kebutuhan Air Masyarakat
Tani di Desa
“Masyarakat Desa Jenggik Utara  sudah lama
mendambakan bendung/embung untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat akan air
baik untuk keperluan pertanian maupun air
minum, tetapi tak kunjung terwujud.
Alhamdulillah, pada tahun 2005 P4MI melalui
KID telah mengalokasikan dana stimulan
sebagai pancingan untuk mendorong dan
meningkatkan partisipasi masyarakat dalam
pembangunan embung secara gotong
royong“, demikian ucap Tuan Guru Fadli
seorang tokoh masyarakat dan pemuka
agama Desa Jenggik Utara. Ditambahkan oleh
beliau “Mari kita berdemo dalam bekerja“.
Profil Desa
Desa Jenggik Utara Kecamatan Montong Gading adalah salah satu desa lokasi kegiatan
P4MI TA. 2005 berjarak sekitar 20 km dari ibukota Kabupaten Lombok Timur. Terletak di
ketinggian 300 M dpl, dengan luas wilayah 485 Km². Jumlah penduduknya 4.838 jiwa,
yang terdiri dari 2.232 laki–laki dan 2.606 perempuan. Penduduk sangat miskin dan miskin
56,52%. Petani ada 2.489 orang (51,45%) dengan rata–rata pemilikan lahan usaha tani
0,2–0,3 ha.
Kelembagaan KID
Pembentukan Komite Investasi Desa (KID) merupakan salah satu kegiatan pemberdayaan
masyarakat tani dari P4MI. Misi utama yang diemban KID adalah untuk meningkatkan
kemampuan petani dalam perencanaan dan pelaksanaan investasi sarana/prasarana
tingkat pedesaan yang dibutuhkan dalam mendukung inovasi produksi dan pemasaran
hasil pertanian. Salah satu tugas utama KID adalah memfasilitasi dan memvalidasi usulan
investasi tingkat desa dan mepresentasikannya di tingkat Forum Antar Desa (FAD) yang
akan menyeleksi usulan tersebut layak atau tidak layak untuk didanai P4MI.
1
Kepengurusan KID terdiri atas 5 orang dengan komposisi; masing-masing satu orang
untuk jabatan Ketua, Sekretaris dan Bendahara serta dua orang anggota. Kriteria anggota
KID antara lain: Bukan aparat desa atau pengurus kelembagaan yang sudah ada di desa;
aktifis yang memiliki visi dan misi pemberdayaan masyarakat dan memiliki rasa
keberpihakan kepada petani kuhusnya petani miskin; serta lebih diutamakan yang memiliki
ketrampilan dan pengalaman di bidang usahatani atau agribisnis.
Personalia pengurus dipilih dalam musyawarah desa yang dihadiri semua komponen
masyarakat (petani, tokoh masyarakat/pemuka agama dan warga desa umumnya). P4MI
dan staf pemerintahan desa hanya bertindak selaku fasilitator. Dari hasil musyawarah
terpilih personalia pengurus KID Jenggik Utara sebagai berikut:
Ketua                           : H. L. Wirama
Sekretaris                   : Marzuki
Bendahara : Zakaria
Anggota                      :  H. Suhaeli
     H. Taufikurrahman
KID didukung oleh 7 kelompok tani yang
dibentuk oleh masyarakat tani. Setiap kelompok
beranggotakan 40-55 petani dengan luas lahan
per kelompok rata–rata antara 33–38 ha.
Kegiatan KID
Dalam melaksanakan fungsi pelayanan dan pemberdayaan masyarakat, KID melakukan
pendekatan partisipatif dan perencanaan dari bawah (bottom up planning). Dengan
demikian semua rencana dan usulan kegiatan benar-benar mencerminkan kebutuhan
masyarakat.
Selain kegiatan pemberdayaan petani melalui pelatihan, pertemuan, demplot, dll. KID juga
melaksanakan kegiatan investasi desa berupa pembangunan prasarana yang telah lama
didambakan masyarakat, yaitu :
1. Pembangunan Bendung / Embung.
Spesifikasi teknis
Bendung/embung yang dibangun berukuran sebagai berikut :
 Luas 0,82 Ha.
2
 Panjang badan bendung 82 M.
 Lebar bawah badan bendung 8 M dan lebar atas badan bendung 6 M.
 Tinggi badan bendung 7,5 M.
 Daya tampung air (volume kotor) 7.000 M³, dan daya tampung air (volume
efektif) 5.600 M³.
 Pintu air 1 buah.
Pelaksanaan pembangunan dan partisipasi masyarakat
Dalam pelaksanaan pembangunan embung ini KID bekerja sama dengan tokoh
masyarakat dan pemuka agama Islam yaitu TGH. M. Fadli Fadil Thohir, pimpinan
Yayasan YATOFA, Bodak yang mempunyai banyak murid/jamaah di Desa Jenggik
Utara dan desa–desa sekitarnya. Para jamaah tersebut digerakkan oleh Tuan Guru
dan KID untuk berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan dimana setiap hari rata–
rata 80–100 orang baik laki–laki maupun perempuan ikut kerja gotong royong
membangun bendung/embung dan jalan usahatani. Dengan dukungan partisipasi
masyarakat yang tinggi tersebut pembuatan embung dapat dirampungkan dalam waktu
yang relatif singkat.
Masyarakat sangat antusias berpartisipasi dalam pelaksanaan
                  Pembangunan bendung/embung yang telah lama didambakan
2. Pembangunan jalan usaha tani.
Jalan usahatani yang dibangun sepanjang 140 m, merupakan penghubung antara jalan
raya/desa ke lokasi embung. Tujuan pembangunan jalan adalah untuk memperlancar
kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan usahatani. Seperti halnya
3
pembangunan embung, pembuatan dan penyelesaiannya dilakukan melalui kegiatan
gotong royong para jemaah dan warga masyarakat desa.
Adanya jalan usahatani memperlancar kegiatan/mobilitas  petani
dari dan ke lokasi embung dan lahan usaha
3. Kegiatan Demplot
Demplot Penggemukan Sapi dengan jenis sapi Bali sebanyak 4 ekor dengan
pertimbangan sebagai berikut :
- Ketersediaan bahan baku (pakan) yang cukup.
- Adanya harapan keuntungan yang cukup menjanjikan.
- Sebagai percontohan/pembanding bagi peternak sekitarnya yang selama ini
menggunakan perlakuan yang tradisional.
4. Pelatihan
- Pelatihan penerapan teknologi pemeliharaan sapi Bali yang diikuti oleh 40 orang
laki-laki (peternak).
- Pelatihan pengolahan hasil pertanian untuk para Kelompok Wanita Tani (KWT)
diikuti oleh 40 orang ibu tani.
Pembiayaan
Total biaya pembangunan embung yang terdiri dari swadaya masyarakat dan alokasi dari
ADB melalui P4MI adalah sebesar Rp 894.800.000,-. Biaya yang berasal dari swadaya
masyarakat nilainya ternyata jauh melebihi dana stimulan yang diberikan P4MI melalui
KID.Tingginya partisipasi masyarakat tercermin dari besarnya nilai swadaya masyarakat
yang mencapai Rp.708.500.000,- (79%) yang terdiri atas nilai tenaga kerja, material/bahan
dan lahan, sedangkan biaya dari ADB melalui P4MI adalah Rp.186.300.000,- (21%).
4
Manfaat dan Dampak
Pembuatan embung merupakan solusi yang tepat bagi daerah-daerah yang sering
mengalami kekurangan air terutama di musim kemarau. Air dari embung digunakan bukan
hanya untuk keperluan pertanian, namun juga untuk keperluan rumah tangga lainnya.
Dampak dan manfaat pembangunan embung dan jalan usahatani yang sudah diantisipasi
sejak awal oleh masyarakat desa dan menjadi kenyataan sekarang adalah sebagai berikut:
 Sebagai sumber air irigasi untuk usaha tani bagi areal 480 ha secara teratur.
 Produksi padi meningkat dari 4 t/ha menjadi 5,6 t/ha.
 Meningkatkan IP dari 200% menjadi 300%, dengan pola tanam padi – padi –
palawija atau padi – tembakau – holtikultura (sayur – sayuran)
 Sebagai sumber air bersih/air minum untuk Desa Jenggik Utara dan desa-  desa
sekitarnya.
 Tempat pemeliharaan ikan dan tempat rekreasi.
 Ada pencetakan sawah baru seluas 15 ha.
Dampak lain dari adanya embung yang dirasakan masyarakat adalah lingkungan
disekitarnya menjadi semakin nyaman, dimana vegetasi tanaman terlihat menghijau
karena kebutuhan akan airnya cukup terpenuhi.
Dengan membangun embung, sawah di desa
dapat diairi secara teratur dan membuka
peluang pencetakan sawah baru.
5
Dampak pembangunan embung dan jalan usahatani di Desa Jenggik Utara
Uraian Sebelum investasi desa Sesudah investasi desa
Dampak Langsung:
1. Petani pemanfaat 998 Orang 2.489 Orang
2. Luas areal tanam (ha) 150 ha 482 ha
3. Hasil tanaman (t/ha)
• Padi 4,0 t/ha 5,6 t/ha
• Palawija 3 t/ha 4 t/ha
• Tembakau 1,7 t /ha daun kering 2 t /ha daun kering
4. Perubahan pola tanam:

Padi – Palawija Padi – Padi – Palawija
 Sawah irigasi
Padi – Tembakau Padi – Tembakau –Sayuran
• Sawah tadah hujan
Ubi kayu Ubi kayu, jagung,
• Tegalan
348 ekor 390 ekor
5. Populasi ternak
Tidak ada 70% Rumah tangga pelihara
6. Perikanan darat
ikan
2 dusun 6 dusun
7. Sumber air minum
8. Pendapatan usaha tani
Rp. 3.000.000/ha Rp. 5.800.000/ha
(Rp/ha)
Dampak tidak langsung:
1. Lapangan kerja
• Kelompok pemanen padi - 4 kelompok @ 10-15 orang
• Buruh tani 915 orang 1.444 orang
2. Perkembangan usaha
• Jasa traktor 2 buah 10 buah

- 2 unit
 Huller berjalan
Lainnya:
Pencetakan sawah baru - 15 ha
Faktor Kunci Keberhasilan
Faktor penunjang keberhasilan kiprah KID Jenggik Utara dalam menyelenggarakan
kegiatan pemberdayaan masyarakat yang utama adalah sebagai berikut:
1. Proses pembentukan organisasi dan personalia pengurus dilakukan melalui
musyawarah antara aparat desa, kelompok tani, tokoh/pemuka masyarakat dan
warga desa.
2. Perencanaan kegiatan dilakukan dengan pendekatan bottom up planning dan
keputusan diambil dalam forum yang mewakili semua komponen masyarakat
melalui proses musyawarah mufakat.
3. Partisipasi aktif dari tokoh/pemuka agama setempat yang disegani masyarakat
memudahkan mobilisasi warga untuk ikut bergotong royong membangun prasarana
yang dibutuhkan.
6
Rencana Tindak Lanjut
Pemeliharaan dan pengoperasian prasarana irigasi pasca P4MI perlu mendapat perhatian
agar keberlanjutan manfaatnya terjamin. Musyawarah KID dengan aparat desa dan
kelompok tani menyepakati beberapa hal yang perlu memperoleh tindak lanjut disertai
solusinya adalah sebagai berikut:
1. Untuk pemeliharaan embung dan jalan usaha tani, telah dibuat peraturan desa/awig -
awig yang mengatur tentang pemanfaatan dan pemeliharaan embung dan jalan pasca
investasi. Petani pemanfaat mengeluarkan iuran berupa gabah 50 kg/ha setiap selesai
panen padi, Rp. 100.000/ha untuk tembakau sekali labuh (diairi) dan Rp. 50.000/ha
untuk tanaman palawija. Iuran tersebut digunakan 70% untuk pemeliharaan embung,
insentif pekasih 20% dan untuk kas desa 10%.
2. Melengkapi embung dengan membangun saluran pembuangan air sepanjang 15 m
guna memperlancar proses pengeluaran air dari embung dan menghindari erosi pada
badan bendung/embung.
3. Pengaturan pola tanam secara tertib agar pemanfaatan air embung lebih efektif dan
efisien.
4. Penguatan lembaga KID dan kelompok tani.
5. Kerja sama dengan dinas dan instansi terkait dalam pengembangan sapi Bali.
7

Tidak ada komentar:

Posting Komentar